Selasa, 13 Januari 2015

Spiritual Journey on The Holly Land (Part 1)

Kali ini saya pengen share pengalaman mengunjungi Tanah Suci, tahun 2010... udah lama memang, tapi tetap aja saya pengen berbagi pengalaman kepada teman-teman... yang berkenan baca, monggo disimak.... ^_^

Juni 2009
Ayah saya (alm. H.Margono) menyetor dana untuk ONH Plus kepada salah satu travel ibadah Haji dan Umroh yang memang sudah terkenal dengan pelayanannya yang bagus di kota kami, Balikpapan. Karena orangtua saya pernah menggunakan jasa travel tersebt untuk ibadah umroh tahun 2007.  Alm ayah saya menyetor dana pensiun beliau  untuk 4 orang (saya, ibu, alm. ayah dan uwak saya (perempuan) yang berada di Sukabumi, Jawa Barat). 



Mestinya pelunasan terakhir untuk bisa berangkat haji dan umroh tahun 2009 itu adalah bulan April 2009... tapi karena alm ayah saya baru menyetorkan bulan Juni, otomatis kami masuk daftar tunggu walaupun sudah melunasi pembayaran. Dan akhirnya kami memutuskan untuk mengikuti prosedur yang ada. Dulu waiting list tidak selama sekarang (harus 4 tahun menunggu baru dapat kepastian berangkat). Dan..... bulan Agustus-September 2010 kami mulai mengikuti Manasik Haji yang diberikan oleh Travel Kami... ada sekitar 37 orang dari Balikpapan. Senang dapat Saudara baru... yang akan bersama kami selama ibadah haji dan umroh nanti... Alhamdulillah...

03 November 2010

Kami memulai perjalanan menuju Jakarta, bergabung dengan jamaah travel yang dari jakarta,dari nunukan, berau, tarakan, dan penajam. Jadi totalnya ada 100 orang. Itu kuota yang disyaratkan oleh Pemerintah Arab Saudi (info dari travel kami). Tapi, karena ada beberapa orang yang berhalangan, sehingga keberangkatannya menyusul kemudian, jadilah kami berangkat ber-97 orang saja. 3 lainnya menyusul kemudian.



Sesuai rencana, info yang kami peroleh dari travel, perjalanan akan melalui rute Jkt-Brunei-Singapore-Jeddah.

Dari Bandara Soekarno Hatta (Jkt) ... kami menunggu persiapan panitia travel, dibawah bendera travel dari jakarta, kami persiapkan segala administrasi (passport, visa, dll). Akhirnya setelah menunggu 4 jam, kami berangkat ke Brunei Darussalam via Brunei Airlines. Saya lupa berapa lama perjalanannya... maaf yaa...
Kami transit di Bandara Internasional Brunei. Tidak lama kami transit, lalu cek visa, dll.... Kami lalu ganti maskapai penerbangan. Kami melanjutkan perjalanan ke Singapura via Singapore Airlines. Selama kurang lebih 10 jam kami di pesawat, akhirnya sampai juga di Jeddah. Perbedaan waktu yang ada, membuat kami banyak bertanya kepada pramugara/pramugari yang ramah dan sigap membantu menerangkan kapan kami bisa solat supaya tidak tertinggal solat 5 waktunya. 

Sampai di Jeddah, luar biasa... udah siang hari dan panasnya mencapai 41 derajat celcius. Kami mengantri untuk urusan administrasi, yang Subhanallah..... sangat panjang dan melelahkan... melewati beberapa lapis pemeriksaan.. dan yang terakhir adalah mengurusi masalah koper... luar biasa penatnya tubuh kami, begitulah rasanya perjuangan mengunjungi The Holly Land ... seimbang dengan pengalaman yang kami peroleh selama proses ibadah tersebut. Alhamdulillah panitia travel kami, sudah tau tugasnya seperti apa.. jadi kami tinggal ikuti instruksi saja.

Ada pengalaman yang tidak mengenakkan nih... waktu rombongan jamaah kami  ngumpul di  tempat yang sudah disediakan utk orang Indonesia... ternyata tempatnya yang luas seluas 5x lapangan sepakbola itu, enggak mampu menampung jamaah dari Indonesia lho.... saking banyaknya.... yang nunggu disana. Kami saja, mau ke kamar kecil/WC... mesti ngantri kayak ngantri sembako.... Belum lagi perilaku orang2 kita yang Masya Allah... tidak enak dilihat.. (bayangin aja...maaf ni ya.. pembalut dimana2.... CD wanita dimana2... tempat sampah aja sampe tidak muat lho!!) ada yang tidak biasa antre lah, nyerobot antrian lah... Buat yang belum pernah, bisa dibayangkan sendiri dech...

Sebenarnya yang ditunggu sampe lama banget itu adalah kepastian transportasi yang akan mengangkut kami ke pemondokan selama di Makkah. Pemerintah Arab Saudi memperhatikan kenyamanan para jamaah dari seluruh dunia. Diatas bus yang mengantar kami ke pemondokan, kami diberi sangu lho... satu kotak berisi
sebotol air zam2 asli   (bukan aspal yang bisa dibeli di Tanah Abang lho ya..), hiasan kaligrafi yang bisa digantung di mobil atau di dinding rumah. Beberapa plastik kecil kurma dan kismis dan roti.  Alhamdulillah... sambil menikmati makanan, kami singgah di cafe milik orang Indonesia di Jeddah,, kami makan dan minum sepuasnya,,, gratis.. tidak pake bayar... itulah persaudaraan sesama muslim disana... Indah bukan? Alhamdulillah lagi...

Akhirnya kami sampai di pemondokan, kami menempati lantai  1, 2, 4 dan 5 dari bangunan rumah tersebut. Penghuninya sendiri ada di lantai 3. Tiap lantai dilengkapi 4 kamar besar dan 3 kamar mandi. tidak jauh dari pemondokan dari ada masjid besar... kami sholat 5 waktu di masjid tsb. Kadang kalo telat, kami sholat berjamaah di pemondokan. Kami beristirahat selama 2 hari, menunggu kedatangan jamaah yang menyusul.. sehingga kami genap menjadi 100 jamaah. Sesuai jadwal panitia, kami melakukan tawaf dan sa'i., rombongan dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok laki2 dan kelompok perempuan. Setiap rombongan jamaah kami didampingi oleh muthawwif (pembimbing/pemandu jalan) yang sudah berpengalaman. Mereka kebanyakan berasal dari TKI yang memilih menetap di negeri Arab... entah karena betah atau karena alasan lainnya..





Ini foto ketika kami bersantai, backgroundnya adalah rumah pemondokan kami selama di Makkah. 


Setelah itu, keesokan harinya kami melakukan perjalanan ke Arafah, kami berangkat malam hari.. Dan kami menumpang bis yang telah disediakan pemerintah Arab Saudi. Sepanjang jalan saya lihat banyak rombongan jamaah lain yang berjalan kaki menuju Arafah, dan mereka beristirahat di gunung2 berbatu yang tentu saja tidak berapi seperti gunung2 di Indonesia... mereka dengan santainya menggelar kain/alas untuk mereka tidur. Untungnya memang cuaca sangat bersahabat.. tiada hujan turun, Memang begitu adanya... semua orang juga tau, di negeri Arab itu jarang turun hujan.....Hehehe...

Selama di Arafah, kami mempersiapkan diri dengan petunjuk yang diberikan, dan mematuhi segala aturan yang ada.. tidak boleh sembarangan masuk maktab orang... itu punya grup jamaah lain, walaupun sama2 dari Indonesia. Giliran makan pun diatur, sesuai maktabnya. Gelang besi kami diperiksa, gelang biru kami pun dipantau, karena informasi tentang kami, jamaah Indonesia, ada di 2 benda tersebut. Seandainya ada jamaah yang tersesat, bisa langsung dilihat dia dari kloter berapa, nomor maktabnya berapa.  Ada detail2nya dalam bahasa Arab, mereka sudah mengkode sedemikian rupa untuk kenyamanan jamaah yang datang di negeri mereka. Alhamdulillah..banyak kemudahan...



Suasana di maktab, bisa saya ceritakan sedikit sebagai gambaran. Jadi ada satu tenda besar kira2 seukuran 10X10 meter untuk satu grup. Ternyata rombongan kami yang 100 orang ini, digabung lagi menjadi 500 orang.. rombongan jamaah yang sama2 dari Indonesia juga, menjadi satu kelompok jamaah dengan kami (ada 4 kelompok travel yang bergabung, jadi ada 4  maktab dalam satu grup besar rombongan kami). Maktab kami terbuat dari kain warna putih, di dalamnya disediakan kasur lipat, ada satu bantal untuk masing2 kasur. Bisa dihitung sendiri, kasur lipat kami ada 100 buah, dan bantalnya juga 100. Kami mempergunakannya hanya sehari semalam, karena selepas isya rombongan jamaah kami mulai bersiap2 berangkat meninggalkan Arafah menuju Mina untuk melempar jumroh. Panitia menyediakan bis yang kemarin mengantar kami dari Makkah menuju Arafah. Supir bisnya menunggu di tempat lain, tidak sekedar mengantar satu kali tempat tujuan saja. Alhamdulillah, sopirnya mengerti tugasnya, dan tidak ngebut di jalanan.  Diantarlah kami dari Arafah menuju maktab di Mina.


Ini foto maktab kami di Mina, jaraknya 2,5 km dari lokasi pelemparan jumroh.

 Selama di Mina, kami mengambil jadwal yang telah ditentukan pemerintah Arab Saudi, semua serba diatur juga   lho... kapan saat boleh melempar, kapan tidak bolehnya. Ada jam2 tertentu.  Karena bergantian dengan rombongan jamaah lain. Selama 3 hari kami di Mina, kami tidak melewatkan mengunjungi pasar malam... (ketahuan, kebiasaan di Indonesia biasa pelesiran alias jalan2... he he he). Pedagangnya orang Indonesia, banyak lho... orang Arab, Zimbabwe, Nigeria, juga tak mau kalah berjualan lho... Saya pake bahasa isyarat, karena tidak mengerti bahasa Zimbabwe, atau bahasa Nigeria. Dan parahnya mereka tidak paham bahasa Inggris, jadilah kami berbahasa isyarat pakai tangan saja. Pembayaran menggunakan mata uang Real... Lucu juga waktu proses tawar menawarnya, saya yang terbiasa melakukan  tawar menawar kalo belanja, diketawain sama mereka, tapi mereka  Ok..Ok saja... Halas ! (Ha ha ha... istilah dalam bahasa Arab ini jadi andalan saya dalam bertransaksi ataupun bercakap2 dengan orang Arab yang baru kami jumpa disana. Halas bisa diartikan sudah / selesai / OK).



Setelah lempar jumroh di Mina, kami diantar dengan bis langganan kami ke Makkah,kembali ke tempat pemondokan kami. Esoknya kami melakukan thawaf dan sa'i kembali. Keesokan paginya kami dijadwalkan ke Madinah selama 8 hari, untuk memenuhi undangan sholat 40 waktu di Masjid Nabawi, di kota Madinah. Bis yang mengantar kami ternyata sudah berganti, dan sopirnya pun sudah ganti pula.  Tak apa, ada hikmahnya buat kami, jumpa kenalan2 baru.  Bus kami singgah untuk keperluan jamaah, seperti buang air/makan/melepas penat,dll... sekitar 40 menit kami istirahat sebentar, perjalan dilanjutkan kembali.  Perjalan sekitar 5-6 jam membuat kami letih, dan akhirnya kami sampai di Madinah. Pemeriksaan kembali dilakukan oleh para petugas disana.  Passport/Visa itu sudah pasti, petugas mengecek jumlah kami dan stempel pun mulai mewarnai lembaran kertas di Passport/Visa kami. Pemeriksaan selesai... kami menuju hotel yang telah disediakan selama kami berada di Madinah. Kami tiba malam hari, menjelang Isya... kami makan malam dulu di hotel, ada yang tidak sabar dan bergegas mengambil wudhu untuk memulai solat 40 waktu. Saya memilih besok saja, yaitu waktu Subuh, untuk mulai menghitung jumlah waktunya... Malam itu, saya yang udah gatal kakinya pengen liat tempat2 apa aja yang asyik dan menarik untuk dikunjungi... mulai bergegas menyusuri setapak demi setapak jalanan di kota Madinah, gak jauh2... hanya di seputaran Masjid Nabawi.  Berkat jalan2 saya bersama alm ayah... (ibu dan uwak saya memilih istirahat di hotel,, maklum faktor U... umur... he he he), akhirnya saya jadi tau, letak hotel saya seberapa jauh dari Masjid Nabawi, kalo tersesat mesti lewat mana tembusnya, saya lumayan hafal walau baru sekali lihat. Masjid Nabawi yang berbentuk kotak, memudahkan saya untuk melakukan acara pribadi saya... traveling... (he he he).



Dan setelah  mengambil beberapa gambar dalam kamera digital saya, akhirnya saya dan alm. ayah  saya pulang ke hotel tempat kami menginap. Saya tidak ingat nama hotelnya... (sebenarnya malas mengingat aja), tapi pelayannya kebanyakan orang India, bukan orang Arab asli..  Rombongan kami yang berjumlah 100 orang ini, masing2 sudah punya acara dan kesibukan sendiri2... ada yang juga hobi jalan2 kayak saya.. ada yang hobi i'tikaf di masjid... jadi gak pulang ke hotel kalo nggak diusir petugas.. he he he (masjid kan juga perlu dibersihkan, jamaah tidsk diizinkan tidur di dalam masjid Nabawi pada malam hari). Pintu2 tertutup kalo malam hari dan dibuka kembali menjelang sholat Fajr (sholat sunah sebelum subuh)..

Pernah saya nekat, pengen solat tahajud di dalam masjid Nabawi, jam 3 malam udah berangkat dari hotel...
ternyata pintunya belum diizinkan untuk dibuka, jadilah kami sholat tahajud di pelataran masjid Nabawi.. mana lupa bawa jaket/mantel tebal lagi... hanya mukena dan sajadah yang jadi penahan dingin kami waktu itu.. uwak saya tidak tahan dengan cuaca dingin disana, kambuhlah asma nya.. batuk tiada henti mewarnai ibadah sholat kami.  Tapi itu tidak menyurutkan semangat kami untuk beribadah, maka kami atur strategi, jam 4 baru keluar dari hotel, supaya bisa langsung masuk mesjid... 





Ini tempat menakjubkan juga.... payung yang berada di pelataran masjid Nabawi. Subhanallah indahnya..


Tempat favorit saya ketika di Madjid Nabawi, tentu sajaaaa... dibawah kubah geser-nya... yang Subhanallah indah dan mengagumkan..... dan saya tidak pernah melewatkan tempat itu, selalu dapat  kavling sholat di bawah kubah yang fenomenal itu... Alhamdulillah... Saya tak lupa bertegur sapa dengan jamaah lain, ada yang dari China, Belanda, Australia, Pakistan, Aljazair, Nepal, Malaysia, Brunei Darussalam, Nigeria dan Zimbabwe. Pake bahasa internasional saja, lumayan bisa melancarkan bahasa Inggris saya... dan mereka juga alhamdulillah paham dengan apa yang saya sampaikan. Alhamdulillah... banyak dapat kenalan baru, saudara baru... Sayangnya mereka tidak punya alamat e-mail, jadi tidak bisa berlanjut jadi sahabat pena dech.....


Ini Ummu Fathima, dari Turki. Beliau sedang menunggu suaminya... saya ajak kenalan dan foto bareng. he he

Setelah 8 hari di Madinah, rombongan kami pulang kembali ke Makkah. Sore hari, selepas sholat Ashar rombongan kami meninggalkan Madinah. Oleh para muthowwif, kami dipersilahkan mengambil miqot di Masjid Bir 'Ali, terletak di luar kota Makkah untuk umroh kembali...(bagi yang mau..) Saya dan keluarga tidak melewatkan kesempatan ini. Kami mengambil wudhu, sholat sunnah di masjid tersebut, lalu berniat umroh dan  melanjutkan perjalanan kembali. Dan kami sampai di Makkah sekitar malam hari menjelang sholat Fajr. Kami thawaf dan sa'i. lalu ber-tahalul. Dan mempersiapkan diri untuk solat Fajr dan Subuh di Masjidil haram. Nikmat banget.... bisa solat berlama2 disana. Kantuk adalah musuh terbesar saya... Tapi alhamdulillah.... saya bisa melawannya. Teringat betapa luar biasa pahalanya sholat di Masjidil  Haram.. 1:10.000 lho.... 



Cerita saya ini baru separuh dari perjalanan ibadah kami... kapan2 saya posting lanjutannya ya teman...
See u... ^_^

Salam...
NAJ - Jan 2015 -